Mau Kredit, Mengapa harus menanggung biaya resiko orang lain?

Sebagian besar konsumen motor di Indonesia sering kali membeli motor dengan cara Credit. Memang jika dibandingkan dengan membeli secara Cash, Credit jauh lebih mahal. Tapi seringkali pilihan pembayaran secara Credit jadi pilihan terakhir karena banyak faktor. Salah satunya kemampuan membayar calon konsumen yang lebih mampu jika harus membayar secara Credit. Cicilan jadi alternative pilihan yang bisa ditempuh sebagai cara memiliki barang yang diinginkan apabila tak mampu membeli barang secara langsung dengan cara Cash. Selain itu Budaya Consumerism yang telah mengakar kuat pada masyarakat Indonesia telah menjadi faktor pendorong kuat sistem pembelian secara Credit ini tumbuh pesat di Indonesia. Faktor-faktor lainnya mungkin kurang etis jika harus dijabarkan satu per satu secara detail di sini. Intinya demand motor di Indonesia bisa terbentuk cukup besar karena adanya kemudahan membeli secara Credit. Bayangkan 76 persen demand motor di Indonesia tercipta karena adanya kemudahan dari pembayaran secara Credit.
Kenapa bunga atau interest rate pada Credit Motor sangat tinggi? Pertanyaan yang sering dikeluhkan orang ini cukup mengelitik untuk kita bahas. Bayangkan siapa pengguna Credit Motor di Indonesia. Secara SES sebagian besar adalah dari kelas C D E. Dimana Risk Level Leasing cukup tinggi akibat kredit macet dan resiko penarikan unit yang berujung pada “budaya” komponen motor telah terkanibal dan bahkan unit hilang tak kembali. Nah Leasing melakukan Risk Management dengan cara menetapkan suku bunga tertentu untuk “kualitas” DP tertentu dan untuk Area tertentu. Ujung2nya untuk mengkompensasi angka Non Performing Loan (NPL) yang cukup tinggi ini mereka memperlakukan Interst Rate (Bunga Kredit) yang sangat tinggi juga pada bisnis ini. Disamping memang margin bisnis Leasing ini masih sangat manis dan besar di Indonesia karena Budaya Consumerism Kredit kita.
Nah adilkah bagi Konsumen? Secara pribadi Gue merasa ini adalah sebuah sistem dimana yang Mampu membantu yang Tidak Mampu, yang Baik membantu yang Jahat, yang Bertanggung Jawab membantu yang Tidak Bertanggung Jawab. Bayangkan bagi orang-orang yang lurus, mengambil kredit karena memang butuh dan mampu serta memiliki ahklak baik bertanggung jawab untuk benar benar melunasinya terpaksa harus membayar bunga yang tinggi yang memang disetting untuk mengkompensasi resiko-resiko yang datang dari para pengambil kredit yang tak bertanggung jawab, kredit macet, tarikan unit bermasalah, kerugian akibat unit rusak atau komponen terkanibal, sampai pada kehilangan unit dan kerugian akibat menjual unit secara cepat dan murah lewat chanel penadah unit tarikan. Sedangkan bagi Para “Pelaku” Nakal saat mengambil kredit atau justru melakukan hal-hal tak bertanggung jawab pada saat tak mampu membayar telah dikompensasikan dari orang-orang yang berakhlak baik dan berjiwa lurus tadi. Adil gak Ya?
Menurut Gue, sudah sepantasnya diperlakukan Customation Interst Rate. Dimana dengan berbagai atribut dan parameter uji terhadap calon pengambil kredit dapat ditentukan tingkat resiko secara independent sekaligus Interst Rate secara independent juga. Jadi pengambil aplikasi kredit dengan histories yang baik, pembayaran selali teratur dan selalu tepat, kondisi keuangan yang stabil, pekerjaan yang mapan, gaji yang cukup, keluarga yang harmonis sampai pada kepribadian yang baik layak memperoleh interst rate yang lebih ringan dari pada calon yang kondisinya tak memenuhi berbagai parameter tadi. Sehingga bisa jadi tiap pengambil aplikasi kredit motor akan memiliki interst rate atau suku bunga yang beraneka ragam sesuai dengan kondisi masing2. Customize Interst Rate ini layak diterapkan dalam kondisi market Industri roda 2 Indonesia yang sudah semakin panas ini. Maju terus…dan salam Uhuuuuuuuuuuuuuuuuuuy!!!

75 responses to “Mau Kredit, Mengapa harus menanggung biaya resiko orang lain?

  1. Masalahnya masih banyak kolusi Om

  2. Di negara maju dah ada parkir customize juga, yang lebih dekat lebih mahal, yang jauh dari pintu building lebih murah. Terserah mau parkir di mana? Cocokin ama kantong aja. Kalau kredit motor dah customize juga, makin ngacir aja jualan. Yang merasa bunganya kegedean gak akan ambil, toh mereka orang2 yang kurang qualified, npl pasti turun drastis.konsumen yang qualified akan makin mudah kredit dan makin tertarik.penjualan makin ngacir dan leasing makin sehat. How a Genius Idea. Uhuiiiii Bro Genesis.

  3. tukang underestimed..

    podium ndak ?

  4. Safety Rider

    Ane jg dah lama memikirkan hal ini, dan ane pikir ga adil, oleh karena itu banyak yg ingin kreditnya ke perbankan dan beli cash (tp dipersulit).

    tapi sebagai tambahan, sebenarnya hal ini sdh diterapkan bbrp leasing dg memberikan kredit khusus pns dan guru, krn biasanya mrk adlh org baik,

  5. tukang underestimed..

    kalo pikiran saya ya nih, memang jatuhnya lebih mahal, tapi seringkali mereka jg mikir kok bahwa dengan memberikan bunga sekian % ke leasing , dibanding dengan manfaat atau hasilnya yg didapat per bulan masih lebih untung kok, daripada naik angkutan umum misalnya…, apalagi jika motor buat usaha, kl ditempat saya kerja istilahnya dapt uang sewa motor …ya berani deh kt ambil kredit, maunya sih pinjem di bank trs beli cash angsuran bisa ringan, tp syaratnya berat, pake jaminan lagi. soal banyaknya yg ngemplang ya sejauh ini kalo leasing masih berdiri ya masih untung. bukan masalah adil tidak adil, setuju tidak setuju dgn pengemplang…, tp kalo diterapkan kayak saran mas genesis mungkin sekarang belum bisa, bisa2 baru tahap survey gaji atau penghasilan saja dah pada gugur tuh calon konsumen, secara di kita masih banyak praktek mark up dll, jg target dr leasingnya sendiri yg jg harus dipenuhi, mau tdk mau jg harus meloloskan kredit tsbt, lha wong bank saja kl dana kredit masih menumpuk saja bingung untuk cari konsumen, yg ujung2nya maksa konsumen untuk memperbesar utang, perilaku semua pelaku usaha memang seharusnya di ubah, jgn kalo sudah kejadian mbledos baru gegeran… yg aneh lg, syarat yg biasanya pake rek listrik, lha rumah di pinggir kali, atau rel kereta yg bukan milik sendiri aja , sama pln bisa disambung listrik, bahkan telpon….. kalo yg bersangkutan bisa menuhin kewajiban ya ndak masalah, tp jika timbul masalah ya siapa yg bakal disalahkan…?

  6. yg penting jangan besar pasak daripada tiang , beli motor sesuai dengan kemampuan aja..hehe

  7. tapi, bukanya budaya leasing bisa nyebabin efek samping berupa demand sementara, jadi khusus untuk motor yang DP nya kecil banget, atau bahkan DP 0 (cuma modal KTP ama dengkul:mrgreen: ) dan ternyata di kredit macetin,,, bisa ngerugiin leasing

    Jadi, meskipun sebenernya leasing untung gede, tapi hal kayak gini juga patut diwaspadai

  8. Setelah dipikir pikir lagi emang ini suatu celah bisnis leasing yang bagus. Dimana kalau aplikasi bisa ditinjau secara perorangan dan suku bunga juga customize perorangan akan sangat baik. Dimana bukan masalah mampu tak mampu, untung tak untung jika harus dipakai kerja lagi. Tapi justru konsumen yang sehat akan mendapatkan bunga yang lebih rendah dan jauh lebih terjangkau. Demand akan naik. Seperti bunga khusus untuk PNS dan Guru. Tapi ini dibuat lebih personal lagi. Untuk yang rumahnya pinggir kali ya bunga akan dikisaran yang lebih tinggi memang. Tapi itu juga sewajarnya dan sesuai dengan tingkat resiko yang harus diambil oleh leasing yang bersangkutan. Sedangkan dengan penerapan bunga khusus untuk PNS dan Guru aja demand motor juga terangkat naik, apalagi jika bisa dibuat secara independet untuk perorangan. Bisa kebayang demand akan naik drastis. Sedang untuk masyarakat yang kurang sehat menurut pandangan leasing selama ini mereka pasti tetap akan mau ambil walau suku bunga lebih tinggi untuk kalangan mereka karena terpaksa dan tak mau repot. Mau pinjam ke mana lagi. Toh jika masih mampu juga akan ambil. Untuk yang ada niatan tak baik dan sudah ada niatan penyalahgunaan aplikasi ini juga akan berhitung dan berfikir lebih panjang jika masih mau terus di tingkat suku bunga yang tinggi karena bad status. Tapi tetap diperlukan adanya teknologi informasi dan sistem yang baik agar ide briliant ini bisa berjalan cepat.

  9. setuja dengan koment masbro gogon pertamax, musuh utama leasing dengan sistem gak fix ini: kolusi konsumen ma sales.

  10. r1ngpiston

    Selama proses kreditnya tetap “keep simple” msh ok, tp jika mjd semakin rumit, maka demand yg “bottom of pyramid” akan turun cukup dratis, selain bunga lebih mahal, proses kredit juga semakin rumit, maka sebagian konsumen ini akan berpindah ke BPR – BPR kecil yg notabene proses lebih mudah dan bunga lebih murah. So, scr kuality emang naik, tp scr kuantity akan turun.

  11. Kalau pihak leasing sudah menerapkan CRM yg bener, bukan hal yang sulit untuk membuat kredit yang customize sesuai dengan ‘kondisi’ peminjam dana. Leasing pasti punya catatan history pembayaran dari para peminjam dana dan bisa dihitung CLV (Customer Lifetime Value) -nya, jadi hal tersebut bukanlah hal yang sulit untuk diterapkan. Tinggal kemauan pihak leasing aja, mau atau tidak.

  12. Bagaimana kalo dp minimal 20 persen..

    Saya termasuk yg nggak layak ni kalo disurvei…soalnya gak punya slip gaji
    (maklum buruh harian).
    Kalo kerja ya dapat uang, kalo nggak kerja ya nggak dapat uang..
    Tapi saya kasih depe di atas 20 persen..
    Leasingnya Langsung tutup mata tuh…
    Hahaha.

    Tapi ya mesti ngirit ..
    Terus terang saya dan istri sama- sama panas tangannya..
    Kalo ada uang di tangan, mesti diabisin..

    Jadi, kredit adalah cara kami utk beli barang..
    Karena, mesti dibayar terus tiap bulan..

    Kalo nabung, wahhh…uangnya bisa nggak keliatan..

    Dulu, saya dan istri sama-sama kerja.
    Anak belum ada.
    Saking nggak punya uang, beli kampas rem aja saya tunda..sampe itu rem bunyi, saya baru ganti..

    Sekarang, anak dah dua. Istri nggak kerja karen urus anak..
    Syukur malah udah bisa nambah kendaraan, walaupun kredit..
    Tapi, nggak kayak dulu…oli aj bisa pake yg paling mahal..

    Kredit, membuat kami lebih irit.
    Itu sih sisi bagusnya.

  13. @ kang ojek
    Setuju Bro, tinggal Leasing mau atau tidak sedikit “susah” untuk meningkatkan pelayanan dan kepuasan konsumennya.

  14. selain customer interest rate. ga kalah penting buat temen2 leasing perlu adanya FID(menyehatkan keuangan leasing). temen2 dari lising merk sebelah dah sukses tuh bro. dan dijamin meminimalisir kerugian finansial leasing.
    mudah2an mas komeng bisa ngangkat isyu ini edisi mendatang. jika perlu diskusi silahkan japri saya.
    salam uhuiiiiii……
    (disinyalir mas komeng banting stir dari dulunya ngiklanin merek sebelah,jadi dirutnya sebuah leasing)
    kabooooorrrr….. :lari:

  15. Gw punya track record bagus di Adira…tapi sampe motor ketiga bunganya sama aja spt konsumen baru…harusnya kalo udah punya track record bagus leasing juga punya rate khusus buat apresiasi kepada konsumen yg loyal, tapi ngapain juga leasing begitu wong enggak juga masih banyak yang mau.

  16. Pernah denger cerita dari temen, ada suatu desa di daerah pesiisir selatan jawa tengah bagian barat, disana terkenalnya para oknum warganya ini kalau ngambil motor kreditan…tidak mau meneruskan kewajiban angsurannya, nah kalo motor mau diambil leasing mereka mengacam akan membakar motor itu & hal ini udah pernah terjadi. Sehingga desa ini langsung di “blacklist” sama leasing2, jadi kalo ada warga yg ngambil motor dari desa ini susah sekali ACC-nya😀

    Btw…saya juga setuju dgn ide dari bro komeng dgn sistem “interest” yg independent ini & lebih afdol lagi kalo diterapkan system Mudharabah, jadi akad kesepakatan harga motor antara pembeli dgn pemberi jasa membayaran jelas, mau di angsur atau tunai sama total harganya. CMIIW😉

  17. kalau saya artikan spt ini (contoh kasus) :
    saya sudah kredit motor di FIF sampai selesai dan lancar. kemudian saya kredit 1 lagi, maka seharusnya fif memberikan bunga yg rendah karena kredit yg pertama saya ga masalah. apalagi kalau saya mengambil (kredit) motor yg ketiga bunganya mesti lebih rendah lagi……

  18. gedhangklutuk

    Nah kuwi jooo, mesthine yo ngono. Kalau saya ambil 1 motor selama tiga tahun kredit gak masalah, pembayaran lancar, bahkan dibayar sebelum jatuh tempo tiap bulan. mesthine yo kalau saya ambil satu lagi motor baru, dari leasing manapun yo khan kredibilitas saya lebih baik dari orang yang gak pernah kredit motor, harusnya bunga lebih bersahabat dan lebih rendah. Karena resiko leasing ngekreditin motor ke saya khan gak segedhe ke orang yang gak punya trak record. Pada saat saya ambil yang ke sekian kali kredibilitas saya jauh lebih baik jika saya juga lancar bayar. Nah suku bunga yang diberikan ke saya harus lebih bersahabat lagi donk, jangan sampai SAYA HARUS MENERIMA SUKU BUNGA YANG SAMA DENGAN orang lain yang kredibilitasnya gak jelas, itu namanya saya mensubsidi resiko leasing karena memberikan kredit ke orang lain yang kredebilitasnya gak jelas.

  19. lae togar anak medan

    mantaaff bro ulazannya

    zampai2x konsumen bilang dazar leasing lintah darat. bunganya mencokik leher.

    seandainya uang muka jauh berbanding luruz thp bunga.

  20. Menghayal mode on;
    Saya sama tetangga tinggal di perumahan yang sama, pekerjaan di perusahaan yang sama dengan jabatan yang sama sama supervisor. Istri sama-sama ibu rumah tangga tanpa penghasilan sampingan. Anak sama 1 orang dan belum sekolah. Type rumah sama sama type 36. Ambil motor yang sama dengan merk yang sama dan type yang sama. Gaji saya dan tetangga sama persis, 2,5jt per bulan. Ambil cicilan yang sama yaitu dengan tempo 36x alias 3 tahun, dp yang dibayar juga sama. 500rb perak sama-sama pake uang rupiah Indonesia. Eh suku bunga yang diberikan leasing ke kami koq berbeda??? Saya dapet 22,1 persen pertahun bayar dan tetangga dapet 24,3 persen pertahun bayar. Kontan tetangga saya protes…ternyata usut punya usut dia sering terlambat bayar / tak melunasi kartu kreditnya dan kadang sering nunggak iuran kampung. Sedang saya selalu teratur bayar kartu kredit saya dan tidak pernah terlambat bayar kartu iuran kampung. Padahal leasing ini tidak memiliki hubungan dengan kartu kredit apalagi kenal pak RT saya. Tapi saya merasa diperlakukan adil karena saya orang yang selalu tepat membayar kewajiban saya dan tidak pernah ngemplang hutang.

  21. asemeleketedol

    @SAS
    entah kenapa saya juga jadi merasa selama ini gak diperlakukan dengan adil yang putih mensubsidi yang hitam.

  22. Pada prinsip saya setuju dengan jabaran yang disampaikan bro komeng namun bisa dipahami jika pengaturan kredit secara spesifik juga akan menimbulkan cost ru yaitu menyangkut biaya survey, dll, disamping itu juga akan menimbulkan kegiatan administrasi yang tidak selaras satu sama lain.

    Oleh sebab itu untuk terhindar dari biaya tinggi saya menyarankan agar para kreditor resiko rendah mencarai alternatif lain untuk pembelian kendaraan antara lain minjam saudara, pinjam di perusahaan, pinjam di koperasi perusahaan, pinjam teman kerja, pinjam sahabat dekat.:mrgreen: Alhamdulillah tempat kerja saya menyediakan fasilitas pinjaman sampai 25 jt Rupiah denga sarat telah bekerja >3 th dan atau jaminan BPKB. Mestinya untuk mereka yang bekerja reguler hal seperti ini bisa diterapkan perusahaan masing masing.

    Bagi yang mereka belum punya fasilitas tersebut dari perusahaan tidak ada salahnya menyampaikan ide ini ke perusaan masing-masing selama karyawan emang punya niat baik dan bisa di percaya perusahaan juga bisa memahami.

  23. Kalau saya punya usul, konsumen yang melunasi seluruh sisa cicilan, misal yang tingggal separuh waktu, dan akan mengambil kredit kembali, cukup membayar angsuran pokok saja, tanpa bunga. Saya yakin akan mendorong konsumen melunasi sisa tanggungan dan mengajukan kredit baru.
    Kemarin sempat mau nutup angsuran yang masih satu tahun, ternyata potongan angsurannya sangat kecil, sehingga akan malah rugi kalau saya tutup. Padahal inginnya mau ngambil motor baru dengan menjual yang lama.

  24. asemeleketedol

    @ ring piston
    menurutku justru akan memberikan perkembangan demand yang cukup baik, bagi yang punya historis baik akan semakin mudah ambil baru lagi, khan suku bunganya special. Bagi yang belum pernah kredit gak akan perduli suku bunga jika terpaksa. Khas kebiasaan masyarakat kita ini khan gimana githu kalau gak kredit gak enak. Lagi pula kalau kepaksa juga bunga berapapun diambil. hanya saja bagi yang udah punya trak record baik ya bunganya juga baik karena tingkat resiko kecil. Saya sangat gak setuju dengan anda Bro Ring, justru demand bottom bawah akan meledak lebih besar.

  25. kalau kita sebagai konsumen yang memang baik dan benar2 beritikad baik mestinya punya posisi tawar tinggi…. gak asal mengikuti apa maunya leasing… ada proses tawar menawar. termasuk besaran bunga yang disepakati….

  26. harus ada BI checking dong kalo gituh….biar teratur dan jelas sekalian….

    atao minjem ke bank aja deh…

  27. @nha segala macem kesulitan yang berkaitan dengan kondisi semacam parameter parameter yang harus di perhitungkan bisa dipermudah dengan sistem informasi base dan sistem keahlian berupa progam iAI keahlian dalam menentukan nilai interest rate berdasarkan tingkat resiko masing-masing aplikasi

  28. asemeleketedol

    Kalau ini benar-benar diaplikasikan, bisa kredit motor murah lewat leasing resmi uei. Aku Mendukung gerakan ini. ayo siapa lagi.

  29. kredit motor merupakan sebuah fase yg sering dilalui dari seseorang yg ingin merubah nasib

  30. Kalau salah satu leasing siap melakukan ini duluan, leasing lain akan kelabakan.

  31. r1ngpiston

    @ SAS

    Tlg dibaca lagi komen saya Bro. Maksud saya disana adalah, jika prosedur dlm menjalankan program baru tsb mjd sangat ribet dan semakin bnyk persyaratan yg diperlukan, maka akan tjd shifting dari leasing ke BPR. Hal ini tjd krn BPR menyediakan bunga yg lebih murah dgn persyaratan yg jg tdk ribet. Bukan penurunan demand scr total. ka

  32. di astra motor daerah sy,dia ngasi opsi kredit tanpa bunga dngan tenor 1 taun aja.
    Kbtln yg dtawari hany golongan trtntu aja,dia krjasama ama fif. Aplg buat yg ud lama jd langganan ato knal dket,tanpa survey pun langsung acc..uang muka minim 50%.
    Terobosan yg bagus sy kira,kredit tp jathny sm dngan cash

  33. asemeleketedol

    @ring piston
    baca dari atas…kayaknya bro ring justru orang yang gak baca komen orang..?#?….baca lagi donk.

  34. @ Ring Piston
    Tolong baca pelan2 dari atas Bro.Lagi pula siapa bilang bakalan ribet dan makan waktu lama. Ini bisa pake pogram keahlian dalam bentuk input analysis dan output result matrix. Misal dari beberapa input parameter; nama, rumah, area rumah, luas tanah, luas bangunan, beli atau kontrak, jika beli berapa harga pasarnya, jika kontrak berapa harga pasarnya, jika numpang dll ada catatan khusus. Anggota keluarga yang bekerja? Gaji sebulan, pengeluaran sebulan, rek listrik rata2 perbulan, rek air rata2 perbulan.Jumlah anak, Biaya pendidikan anak. Sekolah anak dimana. Kalau belanja di hypermarket, mini market atau pasar tradisional, Kartu kredit apa aja, plafon kartu kredit. Check kartu kredit, teratur bayar atau sering tunggak, atau ada yang gak dibayar, chek iuran kampung bayar teratur apa tidak? Intinya dari parameter kecil2 ini di chek kondisi keuangan sekaligus tingkat kejujuran, setelah semua input masuk dalam 1 detik lewat program IT, viola dapet result tingkat resiko dan tingkat interst rate yang pantas bagi calon tersebut. Ingat Bro kita sudah hidup di jaman IT, jaman Mbah Google, jaman internet, jaman Smart Phone dan komputer tablet.Di jaman ini kita dah bisa terbang naik pesawat dengan mudah, menyelam di laut dan beli barang melalui telephon genggam lewat online store, bayar by phone banking dan barang langsung terkirim ke rmh. Atau jangan2 anda masih hidup di jaman kalkulator sehingga mind set anda berkata hal ini berbelit2 wk ka ka ka kak. Kabuuuuur.

  35. r1ngpiston

    @ sas dan asemelekete

    Utk org2 yg selama ini pernah ambil kredit dan selalu lancar bayarnya memang ini sebuah inovasi yg sangat bagus bro, saya akui itu, mereka tdk hrs “mensubsidi” konsumen lain yg bayarnya tdk lancar. Tp utk org2 yg blm pernah ambil kredit sebelumnya dmn org2 ini jg mgkn agak telat dlm bayar iuran kampung, dll akan mendapat bunga yg mahal dgn proses survey yg lebih lama krn pertanyaan yg diajukan jauh lebih banyak, sedangkan di sisi lain, dia bs dpt bunga lebih murah dgn proses yg lebih gampang di BPR. Kl ada yg murah dan mudah, kenapa hrs pilih yg mahal dan ribet???p

  36. @ Ring Piss
    Proses lebih lama dengan pertanyaan lebih ribet….baca lagi Bro….anda ternyata orang yang susah baca dan terlalu cepat menyimpulkan, ini membuktikan mind set kalkulator dan pemikiran jaman surat pos masih melekat pada otak anda.
    Kalau calon tersebut kredit sering telat bayar, berarti resiko npl lebih tinggi. Rate lebih tinggi emang pantas untuk mereka. Lantas apakah prosesnya lama, tidak seperti jaman kalkulator dan pemikiran jaman angon bebek, proses dengan IT keahlian akan cukup cepat. Bahkan bisa di tempat. Memang pertannyaan parameter lebih banyak, akan tetapi bisa dipermudah…tentu saja tergantung peminat aplikasi, survey ke tempat tinggal atau tidak, akan mempengaruhi rate independent juga. Jikalau rate di BPR lebih murah iya, tapi aplikasi lebih sudah lolos dan lebih berbelit2 bagi sebagian orang ini. So tinggalkan mind set angon bebek dan kalkulator. Sekarang era wifi dan informasi kilat.

  37. Piss hua haha…tambah lagi era Blog News, bukan era News Paper lagi. Bayangin hari gini masih baca koran? Sementara yang lain dah liatin layar gadget masing2.

  38. gedhangkluthuk

    Menyimak dulu….masuk akal sih, kita dah di Google Generation, FB Generation, Twitter Generation.

  39. pusing gw baca disni…..gak level ama orang awam macem ane…

  40. @ SAS

    Bro, kita disini utk diskusi atau berantem sih?? Kok anda ngomong nya kasar gt?? Pakai kata2 “otak” segala. Beda pendapat wajarr kan?? Apa perbedaan hrs disikapi dgn kata2 kasar spt itu?? Ngomong baik2 kan bs bro, mgkn anda memang pendapatnya lebih berdasar, lebih benar, atau lebih hebat dr pendapat org lain, termasuk pendapat saya mgkn, tp bkn berarti boleh menghina org lain kan?? Kita tetap hrs saling menghargai kan?? Setahu saya di blog ini isi nya org2 yg berintelektual tinggi, org yg berintelektual tinggi pasti bs menghargai org lain kan??? Begitu pula sebaliknya.

  41. gedhangkluthuk

    ^ @ atas Gue
    Wah,,, ketahuan kalau intelegensinya kurang trus pendapat kalah lihaiii…ya EMOSI yang keluar…wa ka ka ka ka.

  42. black rider

    wkwkwkwkwkwkwk.. otak2 tempura enak tu😛 makanan khas suatu daerah.. tapi lupa darimana :p

  43. black rider

    @ Ring Piston : wah ring piston sudah kalah. segera diganti wkwkwkwk sebelum menyebar ke part yang lain wkwkwkwkwk

    peace.. kabur :p

  44. @ Ring,
    Gak bermaksud seperti itu sih, maksud kata otak itu diarahkan ke pemikiran karena hubungannya ama mind set, lah khan memang organnya terletak di otak. tapi kalau situ merasa githu ya monggo….

  45. yups., setuju dengan bro ringpiston.
    walopun koar2 jaman it, yang namanya angon bebek dan nyemplung kali juga banyak orangnya, dan merekapun bisa jadi menginginkan r2 walo dengan leasing. gak semua yang nulis disini mengetahui persis kondisi masyarakat indonesia. (coba cek daerah kalioso (?????) apa dah booming yang namanya it itu??) just any cases.
    zwinggggggggggggghhhhhhhhhhhhh

  46. gedhangkluthuk

    Bah ketemu satu lagi yang gak baca dari atas lanngsung komen ^, mohon dibaca dulu mas Bro. mudah-mudahan paham…

  47. dah moco mas, n pegel.
    trus kalo ada wacana lain bersifat contra opini kudu dibungkam ya bro???

  48. gedhangkluthuk

    Yang melek IT yang melakukan bisnis dan perangkatnya, konsumen walau buta IT dan angon bebek yo gak pengaruh.
    Pernah makan di d’ cost gak? disitu dah pake PDA, suangar…Cak, model IT kayak githu baik di jakarta, bandung, semarang, surabaya sampai pelosok irian jaya juga bisa diterapkan. Gak hanya pesanannya yang kliatannya ditulis di PDA, tapi sampai forcast koki harus masak apa untuk perkiraan pesanan yang akan datang juga langsung terintegrasi. sehingga pesan sekarang keluar sekarang. Forcast 1 jam kemudian harus masak apa juga otomatis. belum lagi belanja apa untuk 1 minggu kedepan juga otomatis. Masak leasing kalah sama resto?

  49. Angon bebek angsa, angsa dikuali, siapa mau kredit, leasing tak perduli, bunganya sama, bunganya sama, walau kondisinya berbeda-beda, la la la la la, tri li li li li, la la la la la la la la la la la.

  50. r1ngpiston

    Saya mengakui bahwa IT memang membantu kita dalam banyak hal, dan saya mengakui bahwa pengetahuan bro sas mengenai hal ini memang bagus, saya justru bnyk belajar. Hanya kita kan berdiskusi utk mecoba melihat juga apakah side effect nya. Seperti apa yg dikemukakan bro beopat, kita boleh kan pny opini oposisi, apa semua yg oposisi hrs diam kah?? Just wanna keep nice discussion.

  51. thanks buat bro sas , bro gedhangkluthuk n bro ringpiston,
    pada dasarnya saya setuju dengan wacana diatas, bahkan ditambahkan dengan jaman yang sedemikian majunya sehingga informasipun seperti takberpenghalang. semua serba cepat, yang kehidupannya masih menyangkut sarana tersebut. untuk d’cost, saya belum pernah bro:mrgreen: trus dengan kondisi d’cost yang saya belum pernah : apakah dapat dianalogikan bahwa walopun jaman canggih, sarana canggih, pelaku bisnis canggih, tapi ternyata kalo (dan kalo 🙂 ) consumer gak dapet esensinya piye bro?
    bukankah mereka bisa berbelibet?? kan mereka gak canggih2 amat (kayaksaya) thanks bro atas pencerahannya.

  52. gedhangkluthuk

    terima kasih buat komen dari kembar siam 2 tubuh satu hati di atas, dalam kasus D’Cost saya konsumen yang buta PDA, tapi bagi saya yang penting saya bisa pesan cepat, ditemani mbak2 cantik seksi ber PDA, pesanan saya langsung di catat dengan cepat (mereka gak nulis, tapi cuma cental-centhul githu di PDA nya githu), semenit dua menit pesanan saya tersaji di atas meja (Aduh cepatnya pelayanan mereka). Saya bukan promosi D’Cost. Tapi kalau leasing juga dah pake tekno canggih….pelayanan lebih cepat dan lebih baik. Apakah masih perlu konsumen mberok dapat esensi atau tidak? piye toh? pelayanan lebih cepet, lebih modern, lebih baik, pesanan lebih cepet dan lebih baik, servis lebih oke, kok masih bicara esensi…mbok yo mikir sebelum komen Mas. Semua penggunaan IT canggih itu khan dah bermuara pada esensi dari pelayanan yang baik. Konsumen gak perlu tahu ITnya, tapi konsumen bisa merasakan hasilnya, pelayanan cepet, bunga yang individual dan lebih bersahabat tentunya, CRM modern yang menghasilkan manfaat bagi konsumen itu sendiri. Masih mau bicara ESENSI ? Cape deh…

  53. terima kasih mas gedhangkluthuk atas atensinya.
    sip lah, ternyata gak belibet tho. berarti kemungkinan besar kedepannya leasing kudu tambah canggih yo mas kalo wacana itu diberlakukan plus dengan pelayanan yang maknyus dengan mbak2 cantik yang tinggal centhal centhul. pisss masbro. mosok sesama bikerbrother pake cape mas.
    maturnuwun mas.
    pareng…

  54. gedhangkluthuk

    @Beopat
    Semoga kedepannya kita bisa centhal-centhul bareng Bro Beopat, ditemani mbak-mbak kece nan seksi

  55. Gebleekkk!!!gw gak mudeng blast…OKE bro komeng gimana kalo brojol artikel yang baru….biar SEGARRRR….I’ll be waiting but dont long-long.

  56. @Ring Piston
    Side effect apanya?
    Pertanyaan dan statement Bro Ring Piston dah gak relevant dengan kontext dan kontent pembicaraan yang sedang berlangsung. Jangan2 ngak ngerti atau malah salah mengartikan atau pura-pura gak tahu tapi mlayu?
    Baca lagi dari atas, kalau perlu pelan2 dan berulang kali kalau kurang bisa nangkep, jangan asal nyerocos dulu dech Bro. Jadi malu-maluin.Kalau masih gak nangkep ya mungkin dah gak tutuk.
    Lah wong saya sendiri yang pernah menjabat di salah satu leasing Top 3 masih menerka2 alam pikiran penulis ini dalamnya tak terkira, so situ dengan mudahnya dah bikin statement dangkal. Salam Diskusi Bro, jangan kebakaran ya.

  57. r1ngpiston

    Saya setujuu bro, yg pny warung nih pemikirannya dalem bangettttt…. Saya akui, saya harus baca artikel nya bbrp kali utk dpt memahami intisarinya. Semoga dgn diskusi di artikel2 di warung ini kita semua bisa semakin uhuuuyyy!!! Keep nice dicussion bro, ga pake bakar2an. Piss

  58. technolook

    Kritisi ente bagus banget prenn.. empat jempol buat ente.

  59. kadang emang irrasional tapi itulah perilaku sebagian masyarakat indonesia

  60. gedhangkluthuk

    Mana yang Baru Bro Komeng? mohon artikel baru dan pencerahan baru

  61. alternative

    Duh… lama banget postingan yang barunya… ayo brojol2!!

  62. smart-innovation

    Yang kena rate lebih mahal dan lebih murah, dua2nya teredukasi dengan baik (meskipun yg kena rate lebih mahal pada awalnya akan bingung, kecewa, bahkan komplain, tetapi pada gilirannya mereka akan mengerti. Bahkan semakin mereka komplain, semakin mereka akan kelihatan bodohnya). Image yang tercipta : korporat yang menjalankan ini adalah korporat yang “FAIR” bahkan “EDUKATIF”. bahkan brand atpm yang menjalankan kebijakan ini akan dipersepsi demikian pula. Great Concept!! Heran mengapa belum ada pihak finance yang menjalankan ini…

  63. alternative

    Weqs…. dah bulukan gw nungguin artikel nyang baru

  64. Mohon maaf buat Bro Alternative

  65. sangat benar jika budaya kredit telat mendarah daging bagi masyarakat Indonesia, dan tidak heran jika perusahaan leasing menjamur dimana – mana. terlepas dari bunga yang tinggi atau tidak budaya konsumtif masyarakat telah membuat mereka tidak lagi memandang suku bunga. bagi mereka yang penting mendapat nilai guna yang balance dengan pengeluaran mereka. banyak faktor yang mendorong hal tersebut, bisa juga faktor yang di jabarkan di atas, namun sebagian faktor yang mendominasi adalah penampilan, image dari barang yang di beli, kebutuhan, dan manfaat menjadi tolak ukur untuk membeli meskipun harus kredit. namun kredit juga tidak hanya masyarakat dengan pendapatan low. kebanyakan pendapatan tinggi juga lebih memilih untuk kredit karena dengan kredit uang dapat berputar dan dapat digunakan untuk hal2 lain yang lebih bermanfaat ketimbang langsung memberikan uang chas dalam jumlah besar. masuk akal bukan jika kredit lebih diminati.

  66. Engine Enforcer

    masalahnya yang kelas atas kreditnya bunga ringan karena mendapat berbagai keringanan karena faktor priority , sehingga bisa diputer-puter lagi untuk mendapatkan laba lebih gede, nah yang kelas bawah sudah bunganya besar, pake kredit untuk konsumtif

  67. Usahakan beli cash, kalau duitnya kurang ya beli motor bekas untuk sementara, yang penting tujuan utama punya alat transportasi terpenuhi. Baru nabung bener2 deh untuk tujuan beli motor impian! Jangan krediiiiiiit!

  68. problemnya itu kadang kalau kita beli tunai, kalau pingin diasuransi susah. Jadi u/ safety akhirnya pilihnya kredit

  69. Engine Enforcer

    Tunai di asuransiin juga bisa, malah lebih murah, saya pernah, cuma nambah 500rb perak.

  70. Postingan jadul tapi enak juga dikomentari..
    Begini Bro &siz sekalian, saya udah pernah lunas kredit motor & kredit baru lagi dg pertimbangan safeti tadi, maklum brada di kawasan rawan curanmor, baru aja 1 minggu pas plat kalengnya nongol tuh motor di curi orang di dalam rumah, diurusin asuransinya sampai keluar meski ribet dan lama nunggu (sampai 3 bln) dengan perhitungan akhir balanche, padahal dp yang saya bayar cukup besar, 12 jt, karena harga casnya 23 juta…
    ini sangat tidak adil, ini masih terjadi di tahun 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s