Strategi mengelola Keuangan, panduan bagi karyawan bergaji UMP yang hidup di Jakarta

Batas Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta tahun 2018 ini berada pada angka Rp.3.648.035,- walau angka ini bukanlah angka UMP terbesar di Indonesia, namun angka ini sangat menjadi daya tarik kota Jakarta sebagai kota tempat mengadu nasib dan mencari perubahan hidup. Bandingkan dengan banyak kota di Indonesia yang memiliki angka UMP yang jauh sangat lebih kecil dibandingkan dengan UMP Jakarta. Jakarta masih memiliki magnet tersendiri, walaupun biaya hidup bukan juga yang tertinggi di Indonesia, akan tetapi tingkat godaan beban pengeluaran di kota Jakarta adalah yang paling tinggi di Indonesia bisa menjadi ancaman serius untuk keberlangsungan hidup di Jakarta.Next gen paper

Pada kenyataannya walau angka UMP tersebut terlihat cukup tinggi, pada kenyataannya bekerja di Jakarta tidak selalu mendapatkan angka UMP. Masih banyak karyawan yang digaji di bawah angka UMP tersebut, walau sebaliknya juga bagi yang beruntung boleh mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar dan posisi yang okey dengan gaji 40-300juta perbulan. Namun sejujurnya masih lebih banyak yang mengalami nasib dengan harus hidup dengan pendapatan gaji di bawah angka UMP.

Berikut ini adalah strategi mengelola keuangan bagi karyawan yang bergaji UMP atau bahkan kurang dari UMP untuk hidup di kota Jakarta. Misal diangka pendapatan gaji antara 2juta – 3,7 juta.

  1. Sadar dengan apa yang menjadi kebutuhan dan apa yang cuma menjadi keinginan. Masih banyak orang yang tidak pernah sadar dan mampu menguasai hal ini, sehingga akhirnya merasa gajinya tidak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bulanan. Sebagai contoh, saat jam istirahat makan siang, kebutuhan kita adalah makan siang. Ya makan siang itu sebuah kebutuhan, akan tetapi kalau makan siang ini berakhir di Abang Bakso, itu menjadi pelampiasan sebuah keinginan. Ketika kita sadar gaji kita 2 juta per bulan, apa salahnya kalau makan siang kita adalah bekal dari rumah, kita bisa siapkan makan siang tersebut pada pagi hari dengan menu yang tidak kalah bergizinya dan bahkan juga sangat murah meriah, namun tetap enak. Apalagi kalau sampai terseret ikut godaan teman teman satu kantor dengan makan siang di sebuah restaurant yang bisa menghabiskan 1/4 gaji bulanan dalam sekali makan, ini jelas mengikuti godaan keinginan. Jangan samakan makan siang anda dengan seorang manager yang makan siang seharga 2juta rupiah untuk keperluan lobbying, ini jelas sebuah kebutuhan he he he. Ini masih baru makan siang, bagaimana kebiasaan saat membeli sebuah motor? Anda harus benar benar dapat membedakan apakah ini sebuah kebutuhan atau keinginan?
  2. Selalu sisihkan di awal (saat gajian tiba) 20% dari penghasilan untuk tabungan anda. Nah kalau anda tidak memiliki kemampuan menahan diri, lebih baik pakai saja sistem auto debet pada rekening gajian anda untuk ditarik secara automatis ke rekening lain sebagai tabungan.
  3. Anda harus sadar pengeluaran terbesar Anda ada pada konsumsi, transportasi dan biaya tinggal (jika anda kost, kontrak, atau menyicil rumah/apartment). Pastikan hitung dengan cermat berapa pos untuk pengeluaran basic ini sampai akhir bulan berikutnya.
  4. Pakai 25% dari sisa pada point 2&3 untuk biaya bersenang-senang, ini bisa anda gunakan untuk membiayai sebagian dari keinginan anda yang mungkin perlu menurut Anda untuk di penuhi. Pastikan hanya 25 persen dari sisa, bukan dari gaji ya!!! Jadi bila gaji anda 2 juta rupiah perbulan, tabungan anda harus ditambahakan 400rb tiap bulan. Anggap biaya makan 450ribu sebulan, transportasi 200ribu sebulan, dan kost 700ribu sebulan, maka pengeluaran basic adalah 1juta 350ribu, ditambah tabungan maka Rp.1.750.000,- sisanya adalah 250ribu. 25% boleh dipakai bersenang senang, jadi Rp.62.500,- bisa anda gunakan buat bersenang senang. Sedang Rp.187.500,- anda siapkan untuk keperluan penting lainnya. Cukup tidak cukup harus cukup. Bila anda pandai mengatur dan mengelola diri, maka biaya konsumsi, transpotasi dan biaya tinggal dapat ditekan dibawah ilustrasi diatas.

Bayangkan bila anda mampu bertahan dengan strategi ini selama 5 tahun, berapa tabungan yang dapat anda miliki? gunakan itu untuk merubah nasib anda. Hasil Yang Halal dengan cara yang Halal dan disertai dengan Doa pasti membuahkan hasil. Daripada mengambil jalan pintas yang cepat, ingat Karma itu ada dan mengintip untuk menerkammu pada saat dosa telah menjadi matang!!! Seperti Singa yang mengintip dari balik pintu kost!!! Seperti kata pepatah, “mangkane ojo dumeh, ora usah tuku Ninja lek ora kuwat!!!”

6 thoughts on “Strategi mengelola Keuangan, panduan bagi karyawan bergaji UMP yang hidup di Jakarta”

  1. Wah. Itu dia. Disiplin diri mesti kuat. Jangan sombong. Rendah hatilah.

    Karma itu seperti bumerang. Akan terus mengejar dan kembali kepada kita.
    Makanya harus berubah lebih baik.

    Pernah dengar org pas di bengkel. Lagi nasihatin adiknya. Beli sana-sini nyicil. Setelah diitung, gaji tinggal 250 rb.

  2. Wehehe om Komeng lama nggak nulis, sekalinya nulis banyak banget dan ada beberapa materi menyimpang dari tema motor tapi tetep keren kaya yang ini, cakep.

    Ikut berbagi pengalaman, kalo gue sih porsi tabungan lebih gede lagi apalagi kalo masih bujang. 30%-40% bagus banget! Lalu sisanya baru digunakan untuk kebutuhan sehari hari. Gue udah alokasikan untuk pulsa berapa, untuk bensin berapa, makan berapa, jalan jalan berapa, dll. Jaman now juga udah banyak aplikasi di henpon untuk catat pengeluaran kita, jadi lebih tercatat dan bisa bantu disiplin. Gue pake monefy di playstore, banyak applikasi sejenis kok.

    Bisa asal disiplin dan dipraktekkan, dan biar disiplin bisa dengan fitur autodebet itu betul om. Udah banyak lembaga keuangan yang sediakan fitur ini.

    Sistemnya juga disarankan sisihkan penghasilan untuk tabungan dulu, baru sisanya dipakai untuk kebutuhan lain. Kenapa? Kekurangan kebiasaan orang orang itu adalah nabung dari sisa penghasilan mereka. Judulnya aja sisa, ya seadanya aja tersisih berapa di akhir.. sering kecil, nilainya tidak pasti, malah suka habis. Jadi pola pikirnya adalah nabung dulu di awal, baru sisanya dipakai. Jadi secara psikologis pun saat kita memakai uang kita, rasanya lega. Tidak ada beban harus menyisakan sebagian jumlahnya masih untuk menabung, jadi lebih ringan rasanya dalam belanja kebutuhan.

    Gue cenderung alokasi ke reksadana soalnya imbal hasil lebih bagus dari tabungan bank biasa, kalo tabungan bank biasa pasti kegerus inflasi sama biaya admin. Kalo simpan di deposito nggak likuid, ada lock up period.

    Jadi kalo gue alokasinya:

    1. Kalo masih bujang, dari penghasilan bisa 30% otomatis dipotong untuk masa depan. Gue nggak nabung di bank tapi masuk reksadana saham, karena return lebih tinggi untuk jangka panjang dan karena masih bujang jadi risiko bisa ditahan.

    2. 20% buat makan sebulan. Harus cukup. Gue juga setuju, lebih sering bawa bekel. Lagian makanan di daerah kantor kan itu itu aja, lama lama bosen kok hahaha

    3. Kalo harian transport pake motor kecil matic, bensin bisa hemat bangeett.. nggak sampe 5% untuk transport. Kalo lagi musim hujan dan terpaksa bawa mobil, bisa membengkak apalagi kalo lewat toll hahaha

    4. Sekitar 20% untuk tagihan rutin, seperti bayar listrik, beli gas, pulsa hp, internet dll.

    5. 10% buat kontrakan/kos.

    6. Gue nggak alokasikan untuk jalan jalan/travelling karena kurang hobi. Tapi kalo yang hobi, harus dialokasikan juga secara disiplin. Bisa simpan di reksadana pasar uang untuk kebutuhan dengan jangka waktu sekitar 1 tahun. Jadi nabung setahun batau kurang iar bisa jalan jalan.

    Tapi gue pake sisa dari alokasi di atas untuk senang senang, misal nonton bioskop, beli game, makan enak sesekali, jalan jalan dll.

    7. Ini termasuk paling penting: BELANJA TUNAI!! Gue hampir nggak pernah nyicil, beli motor aja cash (bisa diambil dari tabungan no. 1). Karena kredit itu godaannya besar dan bisa ganggu cash flow kalo terlena. Gue hampir selalu bayar apapun pake kartu debit, bukan kartu kredit. Karena kalo pake debit artinya gue bayar SESUAI KEMAMPUAN gue, nggak pake ngutang. Tapi gue tetep punya kartu kredit, karena ada beberapa tipe transaksi yang nggak bisa kalo nggak ada kartu kredit, kaya contohnya premi asuransi, transaksi belanja online, paypal, dll. Walau begitu, kartu kredit gue cuma satu dan gue selalu nggak pernah tergoda promo kartu kredit yang macem macem biar orang nambah kartu, itu dihindari lah.

    Punya kartu kredit juga penting sih agar diliat bank kalo kita bankable, asal pembayaran lancar ya. Ini penting, karena jika nanti kita perlu ajukan kredit, misal KPR, status bankable kita setau gue membantu sekali bank percaya sama kita. Semua bank sudah punya database terintegrasi dengan BI, jadi kalo citra kita baik di satu bank, pasti bank lain juga tau, cmiiw.

    Kalo abis pake kartu kredit pun langsung dibayar, biar nggak kena bunga tagihan plus tetap sesuai dengan kemampuan kita. Jadi alokasi untuk bayar kartu kredit gue ya diambil dari alokasi di atas juga.

    Sebenernya pengalokasian gue ini lagi mau gue sesuaikan sedikit, soalnya gue sadar belum punya alokasi rutin untuk tabungan darurat, karena kalo udah berkeluarga penting tuh. Jadi nanti akan ada beberapa persen yang kena autodebet sebagai alokasi tabungan darurat.

Leave a Reply to Mind Genesis Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s