Tamiya Japan Style, sekarang populer di Indonesia

Dunia adu balap Tamiya mini 4 wd masih gak jauh jauh dari dunia otomotif, bedanya hanya pada sisi pengemudi ditiadakan diganti track lintasan yang sudah diatur sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan tertentu untuk ditaklukkan oleh mekanik dengan cara setting mobil balap ini dengan tepat dan menjadi yang tercepat. Nah justru disini yang ditekankan pada keahlian dan keandalan mekaniknya nih!!! Diadu menjadi siapa yang terhebat dan paling lihay dalam membuat mobil mini 4 yang paling cepat dan realible menaklukan lintasan.

japan style tamiya mini 4wd

Bahkan pada race yang lebih kompleks dengan skala yang makin besar, tidak hanya keahlian dan keandalan mekanik menjadi penentunya, justru keahlian Team management juga sangat diperlukan. Pasalnya dalam permainan ini sudah tidak dalam level main main lagi, tapi sungguh sungguh menjadi race yang serius dan kompetisi yang ketat. Bayangkan saja peraturannya ketat dan sangat detail. (Sejak mengacu pada regulasi Japan Race dan Japan Cup, jadi sangat berbeda jauh dari jaman tamiya boomming di indonesia tahun 90an dan tahun 2000an yang masih dalam race semi main main karena aturan yang longgar.)

Dikarenakan aturan kompetisi dan race banyak mulai mengacu kepada regulasi Japan Race bahkan Japan Cup maka Racer (mekanik) Indonesia mau tidak mau mulai melirik pada keahlian para Racer (mekanik) Jepang bagaimana nge-build sebuah Mobil Balap Tamiya mini 4wd yang bisa melaju kencang dengan batasan batasan peraturan yang sangat ketat tersebut. Memang terbukti settingan Japan Style ini sangat cocok diadopsi, bahkan terbukti sangat perkasa menaklukan berbagai model sircuit yang teknikal dan sangat sulit.

Nah apa aja sih ciri ciri Japan Style setting pada mini 4wd? Ciri ciri utama Japan Style setting adalah mobil dibuat sangat efisien sekali, dengan bobot yang sangat ringan sekitar 100-120grm termasuk motor dan baterai didalamnya. Pengunaan motor yang berdaya kecil sehingga hemat baterai, jadi spec motor paling tinggi yang digunakan biasanya Hyper Dash 3 atau yang dibawahnya. Motor Power Dash, Ultra Dash dan Plasma jarang sekali digunakan karena sudah over power dan konsumsi dayanya terlalu tinggi. Dengan penggunaan Motor berdaya kecil dan berkemampuan rpm terbatas, maka pilihan gear rasio yang mereka gunakan juga gear rasio cepat 3.5:1 untuk mengimbangi rpm motor yang terbatas. Pilihan Velg dan Ban juga dimaksimalkan memakai Large Diameter agar mobil dapat melaju kencang dengan rpm yang terbatas. Otomatis dengan setting ini maka semua komponen bergerak mereka tune up untuk meminimalkan friksi, terutama pada bagian gear dan as serta lubang as, pokoknya semua yang bergesekan dibuat kontaknya sekecil mungkin.

Kenapa mereka sampai melakukan semua ini, sebab pada umumnya perlombaan di Jepang, mobil dikarantina dan sedikit sekali waktu mereka boleh melakukan setting dan perubahan, baterai yang digunakan juga sangat sangat terbatas. Sejak lolos babak penyisihan, mereka race hanya dengan sepasang baterai yang sama hingga semifinal dan terus sampai final. Baterai yang digunakan dalam lomba resmi berjenis alkaline, bukan rechargeable battery. Jadi kebayang khan penghematan daya dan effisiensi yang harus benar benar mereka perhatikan. Berbeda banget dengan kondisi lomba di Indonesia yang dikit dikit harus kupas baterai baru yang masih segel tiap turun race, terutama saat semifinal dan final, kondisi ini berkebalikan 180derajat dengan di Jepang, maklum di Indonesia penyelenggaranya atau sponsor utamanya masih berkutat pada pabrikan baterai he he he, tujuan utama jualan kencang dan banyak!!! wk k k k

Nah ciri selanjutnya pada Japan Style setting adalah membuang / memotong semua bagian yang tidak dibutuhkan baik pada chassis, gear box dan lain lain. Hal ini supaya berat mobil jadi seringan mungkin. Umumnya bagian depan chassis yang berbentuk front bumper pasti dipotong dan sedikit bagian belakang pada type chassis tertentu, semisal MS chassis. Semua bagian ini digantikan dengan FRP Carbon yang kuat, rigid dan super ringan. Hal ini juga untuk meningkatakan ke-realible-an mobil yang harus kuat dan tidak mudah deformasi saat berpacu kencang dan sanggup mengalami dan menahan gaya gaya yang kuat dan keras, utamanya benturan saat terpelanting keluar dari lintasan. Ingat di Jepang, mereka hanya punya sedikit waktu untuk setting mobil, termasuk merubah setingan. Karena hal inilah sistem FRP ini sangat baik dan cepat untuk bongkar pasang setingan mobil. Tersedia berbagai lubang setting di batang FRP supaya cepat mengganti roller maupun memindahkannya, termasuk juga ketika hendak mengubah posisi, letak, ukuran dan berat damper massa. Karena FRP ini bersifat sangat rigid dibandingkan plastik, maka ketika mulai race semifinal hingga final tidak diperbolehkan lagi men-setting mobil dan mobil harus dikarantina oleh panitia sudah tidak menjadi masalah lagi model Japan Style setting ini.

Next gen paper

Ciri selanjutnya adalah pemaksimalan laju saat menikung. Posisi roller dibuat sedekat mungkin dengan ban, untuk mempercepat mobil ditikungan, karena penggunaan gear cepat yang justru membuat akselerasi makin lambat, mereka tidak ingin kehilangan waktu lagi selepas dari tikungan. Daripada harus melabat dan mengejar lagi selepas tikungan dengan akselerasi yang terbatas, mereka memilih untuk tetap kencang di tikungan dan selepas tikungan tetap cepat di jalur lurus karena saat menikung tidak terlalu buang kecepatan. Nah pada beberapa setting tampak kecenderungan untuk memakai roller kecil dengan dia. 13mm pada bagian depan, hal ini agar posisi roller dapat semakin ke belakang mendekati as roda depan, namun tetap pada posisi di depan as roda agar tidak menyalahi regulasi. Hal ini dilakukan dengn tujuan agar semakin effisien saat menikung, sehingga friksi roda depan dengan permukaan lintasan / sircuit seminimal mungkin saat melakukan gerakan berbelok. Pada bagian belakang mereka seringkali memilih Roller dengan diameter besar sekitar 18mm untuk fungsi stabilitas. Roller yang dipilih juga roller tanpa ring plastik maupun ring karet agar friksi sesedikit mungkin dengan dinding lintasan.

Nah Ciri lain tampak pada penggunaan hammer mass damper, seringkali di setting di bagian tengah agak kedepan, jadi diantara kedua roda depan dan belakang namun lebih dekat dengan roda depan. Atau bisa dikatakan dibelakang kedua roda depan. Bila racer Indonesia suka menyeting roller bebas sepanjang tiang bisa naik turun. Justru pada Japan Style setting mereka lebih prefered pada fix roller. Tujuannya jelas lebih realible. Nah umumnya justru FRP depan dan belakang yang berposisi sebagai bemper malah bisa bergerak, istilahnya sliding dan juga bisa sedikit naik turun agar mobil tetap melekat dilintasan dan mau turun saat pendaratan sesudah sloop / jump apabila roller nempel di dinding lintasan. Bahkan untuk lintasan bumpy disinilah mekanisme hammer bekerja untuk memaksa dan memukul body / chassis mobil kembali ke lintasan saat melayang.

Ciri terakhir adalah penggunaan body polycarbonate yang sangat ringan. Di Jepang peraturan mengenai body mobil sangat ketat, hanya boleh mengurangi 20 persen saja dan bentuk body mobil masih harus dapat terlihat. Jadi pilihan body polycarbonat ini adalah pilihan yang tepat untuk mengurangi bobot.

Semoga makin uhuuuuuuuuuuuuy!!!

Yuk main Tamiya lagi yuk!!!

3 thoughts on “Tamiya Japan Style, sekarang populer di Indonesia”

  1. Dulu pernah ikutan team tamiya , ikut lomba juga jaman speed dan stanas.

    Ternyata sudah sejauh ini teknik setting tamiya modern ya. Jadi tertarik terjun lomba lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s