Pusat pengembangan R2 di Asia Tenggara bakalan tetap dipusatkan di Thailand

Bicara soal dunia otomotif R2, sering kali kiblat market trend asia tenggara selalu saja ke Thailand, dimana memang Thailand inilah pusat trend setter dan inovasi produk produk R2 di kawasan Asia Tenggara. Tak heran jika beberapa Merk terkenal selalu menepatkan pusat RnD mereka di Thailand.

Walaupun sekarang hampir semua principles pemegang Merk R2 menyadari bahwa pasar tergemuk sekaligus terempuk di Asia Tenggara saat ini adalah Indonesia (pasar terbesar ke 3 didunia). Namun susah bagi mereka untuk serta merta merubah kiblat dari Thailand yang memang sangat dinamis.

Inilah beberapa alasannya, Thailand memiliki karakter konsumen yang sangat dinamis, kreatif dan sekaligus idea centris, banyak sekali masukan yang diterima oleh survei dan riset dari konsumen di Thailand. (Berbeda dengan konsumen Indonesia yang sering kali “bingung+malas” menyatakan idenya dan pendapatnya ketika ditanya dalam survei). Bahkan konsumen dan masyarakat Thailand dikenal sebagai masyarakat konsumen yang paling kreatif di dunia.

Thailand juga dinilai sebagai pusat Trend Setter di Asia Tenggara, hal ini dibuktikan dengan Bangkok sebagai kota urutan pertama di dunia yang paling banyak dikunjungi oleh turis mancanegara. (Bayangkan Bali + Jakarta dijumlahkan aja gak masuk diurutan 10 besar lho). Sehingga dianggap sebagai lokasi Trend Setter yang paling strategis, banyak yang masuk sekaligus keluar diwilayah ini, pengaruhnya dianggap mudah menyebar dan dipengaruhi oleh area sekitarnya juga, sehingga dianggap paling Global Taste khususnya untuk pasar Asia Tenggara.

Dua hal utama diatas ini tidak dimiliki oleh Indonesia. Dimana walaupun kini sudah mulai diapresiasi oleh pricipal dan pabrikan, namun hanya karena sebagai market tergemuk dan terempuk saja.

Sebagai Gambaran nih pasar motor paling TOP of Mind adalah Sport, di Thailand pasar motor sport masih dominant dengan kontribusi penjualan yang masih significat, sedangkan di Indonesia pasar motor sport ini memang pernah melunjak sampai mendekati kontribusi 20 persen, namun sekarang nampaknya kembali anjlok di kontribusi 5-8persen saja secara nasional. Jikalau Indonesia sempat menjadi pusatnya pengembangan motor sport 250cc, bisa jadi sebentar lagi bisa terlepas lho!!!

Oke saatnya bicara segment yang lain seperti Matic yang Dinamis dan Cub yang serbaguna. Di Thailand kedua segment ini memiliki banyak model serta tetap berkembang terus sampai saat ini. Yang lucu dan cukup menjadi studi perhatian para petinggi principal di Japan, bahwa ternyata trend cub secara kontribusi juga masih memberikan perlawanan dan juga masih bisa naik secara kontribusi penjualan di Thailand. Jadi kondisinya masih saling memberikan perlawanan trend-influence. Hal ini berbeda telak dengan Indonesia dimana cub makin kecil dan termakan secara kontribusi tahun demi tahun, sedangkan matic terus meraja dan makin naik terus secara kontribusi dari tahun ke tahun. Sedangkan di Vietnam cub masih menjadi jualan utama. Nah Thailand ini bisa dilihat sebagai barometer yang balance di antara semua negara negara asia tenggara loh. Dinamikanya lebih mengelobal daripada Indonesia sebagai pasar terbesar ketiga di Dunia dan pasar terbesar pertama yang dikuasai otomotif Jepang.

Akankan kedepannya pengembangan Sport 250cc masih dipusatkan di Indonesia? Beberapa petinggi otomotif menyatakan response negatif, effort, biaya dan waktu yang dikeluarkan ternyata tidak sesuai dengan hasil yang ditargetkan. Bisa jadi nanti akan mandek atau dikembalikan lagi ke Thailand. Bagaimana nasib Honda 250cc 4silinder, akankah nanti dikembangkan sesuai dengan selera, tuntutan dan trend berkiblat dari negeri Thailand? mungkin itu lebih baik sih, setidaknya secara level mutu dan design !!!

11 thoughts on “Pusat pengembangan R2 di Asia Tenggara bakalan tetap dipusatkan di Thailand”

  1. Bisa jadi
    Dimata mindset Japanese, Orang Thailand terkenal kreatif dan ramah.

    Sedangkan dimata orang Jepang itu, Orang Indonesia itu terkenal paling malas, suka terlambat, janji tidak dapat dipegang. Suka salah dan kalau salah malah senyum senyum ketawa, kerjanya lambat dan tidak produktif.

    Setidaknya hal ini diakui Prof saya sendiri dan beberapa senpai disana.

    1. Saya yakin tidak semua orang Jepang beranggapan seperti itu,
      Saya sendiri pernah bekerja di salah satu perusahaan Jepang yg cukup bonafit.
      Dari hasil produksi menghasilkan angka yang membuat orang Jepang tercengang.
      Efisiensi produksi diatas 88%
      Difect dibawah 25 pom
      Dengan biaya produksi yg paling rendah dari seluruh perusahaan tsb di bandingkan dengan yg berada di negara lain , baik di Eropa maupun Asia termasuk di Jepang sendiri.
      Mereka akhirnya sering menjadi kan perusahaan tempat saya bekerja tsb sebagai studi banding atau bahkan training bagi perusahaan di yg sama dari negara lain.
      Artinya , sebenarnya orang Indonesia jika di didik dengan baik, insya Alloh bisa bersaing dengan negara lain.

      1. Bener Bang, saya tau perusahaan yg abang maksud. Namun itu satu pengecualian aja. Lainnya tidak demikian berkebalikan dari cerita abang faktanya.
        Perusahaan Jepang pada umumnya mengakui efisiensi produktivitas di Vietnam jauh lebih baik dari pada pabrik di Indonesia, dan di Indonesia banyak pungutan liar diluar forecast.

        Kalau umumnya orang Jepang ditanya bagaimana orang Indonesia menurut mereka pasti jawabnya bagus bagus sebagai formalitas mereka, namun beda kalau kita sudah kenal akrab dan baik, mereka lebih jujur bilang apa adanya. Terutama kalau peforma kita sudah dianggap baik mereka berani bilang peforma umumnya orang Indonesia dimata mereka bagaimana sambil tetap memuji performa kita yang jauh diatas performa pada umumnya orang Indonesia dimata mereka.

        Kalau performa di negara barat sih memang akhir akhir ini lebih rendah, namun untuk Asia dan terutama jika diadu dengan kultur Asia Timur tentu saja kita masih kalah jauh sekali.

  2. motor yg dipusatkan pengembangannya di Indonesia itu CS1 gagal total, produk gatot brow.

    Kalau CBR250RR pengembangan masih di Jepang dgn input Indonesia dan manufaktur dipusatkan di Indonesia. (Input Indonesia itu adalah body gede segede moge 1000cc) kalau taste Japan 250cc ramping brow.
    R25 sama pengembangan di Jepang input keras dari pasar Indonesia, hasil setengah setengah body besar kopong minim fitur racing.
    Kawasaki Ninja pengembangan di Jepang input dari Thai sono. Bukan dari Indonesia, kasus zx25r aja manufaktur dipusatkan di Indonesia.

  3. mungkin itu lebih baik sih, setidaknya secara level mutu dan design !!!

    Mutu sih ok ya kalo Thai… Kalo design ntar dulu deh Kita liat… Suka trauma klo ngeliat design CBR sempak…

  4. Berdasar pengalaman yg sudah2, motor sport bikinan thailand dari jaman 2 tak masih jaya selalu dapat diterima dengan baik oleh pasar indo

  5. Mau thailand atau indonesia, design masih oke.apalagi durability thailand tidak perlu diragukan. Ya biayanya jadi malah sih.
    Asal jangan ke India dulu deh, designnya masih kaku,
    China sudah berbenah masalah design, tinggal image durability.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s