Jeane Yosefa Tine, Guru Berdedikasi penerima Program SUN Love for Share “Bagimu Guru”.

Resin coated

Masih ingat dalam artikel sebelumnya https://mygoldmachine.wordpress.com/2018/01/30/csr-love-for-share-bagimu-guru-patut-diacungi-jempol/Sebuah Program CSR oleh Pabrikan Tinta dan Kertas Printer paling Revolusioner di Indonesia, SUN Indonesia yang mengadakan sebuah program CSR unik berupa bantuan peralatan pendidikan, bagi Guru yang memiliki Dedikasi luar Biasa dan dapat dijadikan sebagai tokoh figur yang teladan bagi Guru Guru lainnya di Indonesia.

BagimuGuru

Nah penasaran dengan Guru paling Berdedikasi pemenang program CSR ini???

Marilah kita berkenalan dengan Ibu Guru Cantik; Jeane Yosefa Tine, Pemenang sekaligus Penerima Program CSR Love For Share “Bagimu Guru” yang digelar oleh SUN Indonesia. Tentunya bukan suatu kebetulan jikalau Ibu Guru Cantik inilah yang terpilih, melainkan pastinya melewati suatu proses filtering yang ketat dan tahapan tahapan yang berlapis lapis sampai akhirnya terpilih sebagai Guru Paling Berdedikasi dan Teladan versi Love for Share “Bagimu Guru”.

Yuk Kenalan Yuks… Baca Kisahnya yang mengharukan;

Bu Guru Cantik ini bernama lengkap Jeane Yosefa Tine, lahir di Mangaran, Manado sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Sebagai seorang anak bangsa yang memiliki cita cita yang luhur, sejak SMP Jeane kecil bercita-cita kelak menjadi seorang Guru Matematika. Cita-citanya itu beliau kejar dengan keras sampai akhirnya pada tahun 2011 lulus Sarjana Pendidikan jurusan Matematika di universitas Negeri Manado.

Sebagai seorang Katholik yang taat, ia terpanggil untuk mengajar anak-anak di desa pedalaman dimana ia sangat dibutuhkan. Baginya Profesi Guru bukanlah pekerjaan semata untuk mendapatkan penghasilan, akan tetapi sebuah bentuk panggilan pelayanan dan tugas mulia seperti keyakinan yang dipeluknya. Baginya adalah hal yang sangat membahagiakan ketika dapat melihat senyum anak-anak yang menanti dan merindukan gurunya untuk dapat belajar tiap hari di sekolah. Sangat memuaskan apabila dapat melihat anak-anak pedalaman yang dianggap jauh tertinggal dan dianggap tidak tau apa-apa dapat berhasil apalagi berprestasi.

Saat ini Ibu Guru Jeane Yosefa Tine mengajar dan mengabdi sebagai guru Tenaga Kerja Kontrak Daerah  (TK2D) di SD Negeri 006 Muara Wahau. Di Desa pedalaman suku Dayak Wehea, desa Benhes, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Ketika saat awal mengajar di daerah ini, Ibu Guru Jeane Yosefa Tine mendapatkan banyak tantangan, mulai dari infrastruktur yang tidak layak, bangunan sekolah yang sudah tua, dinding-dinding kayu yang sudah berlubang-lubang, ruang kelas yang jorok, halaman sekolah yang semerawut, kurangnya sarana dan prasarana mengajar dan tentunya kurangnya buku-buku pembelajaran. Diperparah lagi dengan adanya oknum guru-guru rekan mengajar yang seringkali absen dan bermalas-malasan tidak mengajar. Bahkan ada beberapa oknum guru yang tidak pernah datang mengajar, kecuali disaat ada kunjungan pengawas sekolah dari Diknas, mereka ini tetap menerima gaji mereka walaupun tidak pernah datang mengajar di sekolah. Bahkan ada juga seorang oknum guru yang datang tiap hari ke sekolah, tetapi bukannya mengajar, melainkan berjualan dikantin sekolah. Hal ini semakin diperparah dengan beberapa orang Guru yang hanya duduk bercengkrama di kantin saja. Sikap beberapa rekannya ini sangat mengecewakannya, bahkan membuat Ibu Guru Jeane ini sungguh amat prihatin dengan kondisi tersebut. Beliau sangat kasihan dengan anak-anak yang tiap hari datang ke sekolah untuk menunggu gurunya yang tak kunjung masuk ke dalam kelas. Karena hal inilah, sekolah juga menjadi sangat tidak disiplin. Mencontoh panutan mereka, anak-anak masuk ke kelas dan pulang sekolah seenaknya saja tidak lagi mengikuti aturan jam masuk dan jam pulang sekolah.

Di tempat inilah Ibu Guru Jeane Yosefa Tine masuk dan mengajar menjadi wali kelas V, ia sangat shock, kaget sekaligus prihatin melihat kenyataan yang dihadapinya. Rata-rata anak kelas 5 belum lancar membaca dan tidak tahu berhitung. Rupanya materi-materi pelajaran sebagai dasar di kelas-kelas sebelumnya tidak diajarkan kepada mereka. Kondisi inilah yang sangat menyentuh hati Jeane Yosefa Tine sebagai seorang pendidik, Ia berkomitmen untuk sungguh-sungguh mengajar dan mendidik anak anak perwaliannya ini. Tidak hanya untuk mengejar seluruh bahan pelajaran yang belum dikuasai mereka, akan tetapi dalam hatinya ia berkomitment membuat anak-anak ini menjadi anak anak yang berprestasi. Anak anak yang memiliki kebanggaan sebagai penerus bangsa yang berprestasi.

Jeane Yosefa Tine mulai menjalankan komitmennya ini, dengan hati keibuan yang lembut namun dengan semangat sekuat baja, ia bertekad kuat menjadikan kelasnya sebagai contoh bagi kelas kelas yang lainnya. Baginya perubahan itu harus dimulai oleh dirinya terlebih dahulu, dari kelasnya sendiri. Ia bertekad menunjukkan pada guru-guru yang lain bahwa anak-anak yang ia tangani bukanlah anak-anak yang nakal, kurang mampu dan bodoh seperti anggapan stigma guru-guru lainnya. Ia mau menunjukkan bahwa semua anak itu pada dasarnya Pintar, jika diajar dengan baik dan dimengerti.

Diawal saat saat mengajar inilah, semua tantangan harus ia hadapi dengan perjuangan yang keras. Bagaikan melawan arus deras aliran air terjun, Ibu Guru ini menghadapi semua tantangan dengan tabah dan doa. Kesulitan demi kesulitan ia hadapi dengan tabah, ia berjuang dengan segenap jiwa dan raga bukan cuma sebagai Guru akan tetapi sebagai Pendidik. Ditengah minimnya prasarana, kurangnya buku-buku pelajaran, minimnya referensi bahkan beberapa tema pelajaran tidak ada buku sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk mengajar anak-anak perwaliannya dengan telaten. Dasar demi dasar ia ajarkan, sebulan pertama seakan ia mengulang seluruh bahan dari materi SD kelas 1 hingga kelas 4. Mulai dasar membaca dan menulis yang benar, banyak dari anak didiknya yang belum bisa berkomunikasi dengan lancar, beberapa anak tidak menguasai bahasa Indonesia yang baku, mereka masih sering memakai bahasa setempat untuk berkomunikasi. Begitu pula dengan materi hitungan dasar, hampir seluruh anak didiknya juga belum menguasai materi ini. Ibu Guru ini dengan telaten mencoba membiasakan anak-anaknya untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baku di dalam kelasnya. Begitu pula dengan tata tertib dan kedisiplinan mulai ia terapkan setahap demi setahap. Tak lupa nilai-nilai moral dan kesopanan mulai ia terapkan dari hal hal yang kecil dan sepele terlebih dahulu. Semua ini merupakan perjuangan keras dari seorang Pendidik, bukan cuma Guru.

Setelah Disiplin mulai membaik, Ibu Guru ini mulai mencoba mengundurkan jam pulang sekolah bagi kelasnya. Ia mengundurkan jam pulang kelasnya yang semula jam 12.00 menjadi 13.00, tambah 1 jam. Kemudian sore harinya jam 15.00-17.00 ia menyuruh anak perwaliannya datang lagi ke sekolah untuk kembali belajar. Ia mentargetkan dalam waktu 1 bulan anak-anak sudah harus menguasai materi dasar dengan benar. Setelah 1 bulan, barulah anak-anak ini diajak masuk ke materi kelas V, kini hambatannya ada pada kurangnya buku-buku sumber belajar. Ia tidak kehilangan akal untuk mendownload materi-materi pembelajaran lewat Internet. Karena tidak ada komputer dan printer atau proyektor, Ibu Guru ini memegang Handphone sambil mengajar.

Pengorbanan Tulus ini membuahkan hasil manis, anak-anak didiknya tak hanya mulai pintar dan terlihat cerdas, bahkan mampu menunjukkan prestasi yang sangat Luar Biasa!!! Tak lama setelah itu, ia memberanikan diri untuk mengikutsertakan anak-anaknya dalam lomba Olimpiade Sekolah Dasar dalam dan luar perkebunan. Ada 14 sekolah yang menjadi pesertanya saat itu. Dalam lomba Cerdas Cermat Matematika-IPA kelas V, anak didiknya berhasil masuk dalam babak final, bahkan memperoleh Juara 1. Prestasi yang luar biasa ini sangat mengagetkan dan menggegerkan banyak pihak, termasuk rekan-rekan guru di sekolahnya. Anggapan mereka semua ternyata salah. “Tidak ada anak-anak yang Bodoh atau kurang mampu, yang ada hanyalah anak-anak yang belum diajar oleh Guru yang bersungguh-sungguh dan tulus untuk mendidik mereka”.

Tahun 2017 anak-anak didik Ibu Jeane Yosefa Tine kembali berprestasi. Mereka kembali menjuarai berbagai lomba. Ajang terbesar yang diikuti adalah Lomba Cerdas Cermat tingkat Kecamatan yang diikuti oleh 18 sekolah di Muara Wahau. Kali inipun anak-anak yang bersemangat ini kembali menjadi Juara 1. Tahun ini juga, sekolah SDN 006 Muara Wahau mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah lomba Olimpiade Sekolah Dasar dalam dan luar perkebunan. Kali ini tidak hanya satu gelar juara melainkan mendapat juara 3 umum dari semua akumulasi juara. Prestasi luar biasa dari sebuah sekolah yang awalnya diremehkan.

Dengan berprestasinya anak-anaknya ini, memberikan dampak yang begitu besar bagi sekolah SDN 006 Muara Wahau ini. Sekolah ini mulai dikenal, anggapan bahwa anak-anak disekolah ini kurang mampu sekarang sudah dapat disangkal. Bahkan beberapa oknum guru yang tidak pernah masuk mengajar disekolah sekarang sudah mengundurkan diri digantikan oleh guru-guru baru. Setidaknya saat ini beberapa kelas tidak lagi kosong seperti dulu, beberapa Guru mulai masuk mengajar di kelas. Dan sekolah SDN 006 Muara Wahau yang dulunya tidak pernah mendapatkan perhatian, saat ini mulai mendapatkan perhatian dan bantuan dari beberapa pihak.

Saat ditanya mengenai apa harapan Ibu Jeane Yosefa Tine, beliau mengungkapkan harapannya; Ia berharap sekolah-sekolah pedalaman mendapatkan perhatian yang sama dari pemerintah dengan sekolah-sekolah di kota, baik infrastruktur, fasilitas, sarana dan prasarananya. Begitu pula besar harapannya agar pemerintah juga memberikan tenaga guru yang kompeten yang benar-benar mengabdi dan mencintai pekerjaannya bagi sekolah-sekolah di pedalaman. Karena jaraknya yang jauh dan sulit dijangkau, seringkali sekolah-sekolah di pedalaman juga tidak atau jarang mendapatkan kunjungan dari Dinas Pendidikan, sehingga kekurangan yang ada pada sekolah kurang terperhatikan. Beliau berharap ada perhatian secara khusus dari Pemerintah sebagai solusi dari kondisi tersebut.

Akhir kata dari Ibu Guru ini, ia sangat berharap semua guru-guru di Indonesia memiliki rasa cinta yang dalam pada profesinya sebagai guru, sehingga dapat mengajar dengan penuh cinta dan ketulusan. Keberhasilan seorang guru dapat terlihat pada keberhasilan anak didiknya”.

Ini bener bener story From ZERO to HERO!!!

Welldone Bu Guru Jeane Yosefa Tine !!! Tetap semangat dan semakin Uhuuuuuuuuy ya!!!

Semoga Pemerintah semakin perhatian khususnya buat guru guru Honorer atau TK2D yang secara khusus mengabdi di pedalaman. Semoga mereka mendapat gaji yang layak yang memadai dan mendukung profesi serta pengabdian yang telah mereka lakukan. Juga semoga adanya perhatian yang khusus bagi guru guru yang berprestasi dan berdedikasi agar dapat diangkat menjadi CPNS dan diberikan beasiswa studi lanjut.

kiriman hadiah

Akhir kata, Good Job buat team CSR SUN Indonesia dengan CSR yang Luar Biasa ini !!! Benar benar Brand yang memiliki reputasi Social Responsibility Jempolan!!!

 

 

6 thoughts on “Jeane Yosefa Tine, Guru Berdedikasi penerima Program SUN Love for Share “Bagimu Guru”.”

  1. Dalam kehidupan ini kita tidak dapat selalu melakukan hal yang besar…
    Tetapi kita dapat melakukan banyak hal kecil dengan cinta yang besar.

    ~ Santa Teresa dari Kalkuta ~

    Proficiat buat Ibu Guru Jeane

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s